Hati orang siapa yang tau? Hati sendiri aja saya gak tau

Salah satu hal yang paling menyebalkan belakangan ini adalah saat saya tidak paham akan perasaan saya sendiri, saat saya tidak bisa membedakan apakah ini perasaan saya yang sesungguhnya atau bukan. Saya takut yang saya rasakan sekarang ini cuma buah imajinasi saya. Cuma buah kehampaan saya. Atau jangan-jangan karena saya (kira) cuma punya 2 pilihan dan saya tidak mau pada pilihan 1 jadi tanpa saya menyadari saya memaksakan diri untuk pilihan 2.

 

Yang lebih menyebalkan lagi kalau pilihan 2 ternyata tidak bisa saya ambil karena sudah diambil orang lain. Terus saya jadi pusing dan gundah gulana sendiri. Padahal kalau pilihan 2 bisa saya bawa pulang belum tentu juga saya jadi bahagia.

 

Siapa sang pengirim lagu?

Duluuuuuu….

Saat saya masih di tahun pertama dengan seragam putih abu-abu ada kejadian yang membuat saya penasaran sampai saat ini.

Semua berasal saat salah satu kelas senior membutuhkan uang dalam jumlah cukup banyak yang akhirnya “memaksa” mereka untuk berpikir dan bertindak kreatif. Salah satu langkah yang mereka ambil adalah menjual musik. Jadi, siapapun bisa me-request lagu apa saja kepada mereka untuk dikirimkan ke siapapun. Tentunya yang me-request harus membayar sejumlah uang. Besaran yang harus dibayar disesuaikan dengan siapa yang menyanyi dan alat musik apa saja dan berapa yang mengiringi. Biasanya lagu akan dinyanyikan di kelas orang yang dikirimi lagu dan mereka akan mengumpulkan uang lagi di sana.

Saya masih ingat saat itu sedang istirahat dan saya baru saja kembali dari kantin ke kelas dengan membawa 1 mangkok berisi 1 porsi Ind*mie goreng pedas. Saat sampai di kelas salah seorang teman saya bilang “nov, tadi ada yang nyariin.”. Karena saya masih masuk kategori manusia pada umumnya saya pun balik bertanya, “siapa?” dan dijawab, “anak PK. katanya sih ntar balik lagi.“. (catatan: PK = Perwakilan Kelas; organisasi yang saya ikuti waktu SMA)

Tak lama, saat lagi asik-asiknya menikmati Ind*mie goreng pedas datanglah orang yang tadi mencari saya. Tapi kali ini tidak sendirian melainkan bersama rombongan. Hal yang tidak saya duga pun terjadi. Mereka bernyanyi untuk saya. Kalo kata teman saya paket mahal tuh, soalnya yang bernyanyi untuk saya adalah penyanyi solo yang paling mahal dengan diiringi beberapa gitar dan biola (saya lupa jumlahnya dan saya lupa ada alat musik lainnya atau tidak) serta diiringi paduan suara. Saya masih ingat lagu yang dinyanyikan saat itu adalah “Runaway -The Corrs”.

Setelah selesai salah seorang dari mereka menghampiri saya dan bilang, “nov, sebenernya ada suratnya juga tapi yang bawa suratnya lagi sakit. nanti ya disusulkan.“. Yup, sesuai dugaan surat tidak pernah sampai di tangan saya dan sampai detik ini saya tidak pernah tau siapa yang mengirimkan lagu tersebut. Masa lalu masih juga penasaran? Sangat!

Untuk siapapun yang merasa dulu pernah mengirimkan lagu tersebut untuk saya:

Terima kasih. Maaf tidak ada respon apapun dari saya. Bukan saya tidak mau mengucapkan terima kasih secara langsung, tapi saya tidak tahu harus mengucapkannya ke siapa. Kalau memungkinkan, saya masih ingin tahu siapa Anda dan apa sih isi suratnya 😀

 

 

Jakarta, 21 November 2016

Akhir tahun, aquarius, cukur alis, dan resolusi

Akhir tahun banyak sekali dipenuhi celoteh tentang resolusi untuk tahun berikutnya. Itu yang biasa terjadi dari tahun ke tahun setiap menjelang pergantian tahun.

Saya sendiri bukanlah satu dari orang-orang yang gemar membuat resolusi. Mungkin karena saya memang tipikal orang yang santai (cenderung pemalas) terhadap kehidupan. Ya mungkin ini salah satu bawaan zodiak saya, Aquarius, yang berpikir untuk selalu membiarkan hidup mengalir seperti air.

Di akhir tahun 2014 kemarin, di tengah-tengah kesibukan menyiapkan laporan akhir proyek saya (selalu) menyempatkan diri berpikir hal-hal yang tidak penting tapi penting tergantung dari sudut mana melihatnya hahaha. Saya berpikir untuk merapikan alis yang sudah gondrong. Sebenarnya selain alasan gondrong, saya juga mendadak ingat saya masih punya jatah paket yang saya lupa kapan kadaluarsanya. Jadi, daripada kadaluarsa lebih baik dipakai segera toh ada alasan tambahan, biar cantik di tahun yang baru 😀

Niat hati di tanggal 30. Seperti biasa, karena tempatnya (kita sebut aja salon alis) dekat dengan kantor saya langsung menuju tempat tanpa melakukan reservasi terlebih dulu sekalian mentransfer sejumlah uang ke seseorang. Sampai sana ternyata jadwalnya sudah penuh. Akhirnya saya buat reservasi untuk jam5 sore. Berpikir untuk mampir lagi sepulang kerja dan sebelum ketemu teman-teman yang rencananya mau melakukan obrolan ‘berkualitas’. Eh ternyata sorenya saya masih asik asik tanggung mengerjakan laporan saat di telepon oleh pihak salon alis. Ya udah minta undur ke lebih malam (stengah8) dengan harapan obrolan ‘berkualitas’ sudah selesai toh saya juga lagi gak boleh pulang terlalu malam. Dan ternyata lagi kalo sudah ketemu teman dan ngobrol waktu berlalu begitu cepat dan sudah waktunya ditelepon lagi aja sama mba nya, ternyata sudah stengah8. Ya udah mba, undur besok pagi aja ya hehe

Yup tanggal 31. Sampai kantor agak siang, buka laptop sebentar trus langsung kabur ke salon alis itu. Clekit-clekit sana sini akhirnya selesai. Hihihi lumayan terlihat lebih bersih. Selesai dari sana, tanpa direncanakan kaki saya melangkah ke toko buku yang posisinya dibelakang si salon alis. Padahal laporan masih menunggu tapi ya udahlah ya bentar aja mah gpp :p. Liat-liat jajaran buku yang dipajang, mendadak suatu pemikiran muncul di kepala saya begitu saja: tahun depan saya mau lebih banyak belajar. Saya merasa beberapa tahun belakangan saya kurang banyak belajar. Jadi, tahun depan saya harus belajar lebih banyak lagi. Belajar apa? Belajar semuanya: ilmu pengetahuan, ilmu kehidupan, hubungan vertikal dan horizontal, cinta, belajar mengurangi hal-hal dan sifat-sifat negatif dari diri saya (seperti irian bubar, emosian, dll), belajar lebih bersyukur dan belajar lain-lainnya.

Entah itu bisa disebut resolusi atau tidak. Kalo iya, wah tumben-tumbenan saya bikin resolusi hahaha

Jakarta, 2 Januari 2015
Kebon Kacang

Indom*e rebus rasa kari gak pake becanda

WP_002266

Ke luar kota kok makannya Indom*e rebus?

Eits lain cerita kalo lagi di Kota Medan. Bisa dibilang termasuk wajib hukumnya buat makan Indom*e rebus di kota yang satu ini. Indom*e rebus a la Kota Medan bukan sekedar Indom*e rebus biasa yang diolah dengan bumbu-bumbu pabrik.

Indom*e yang dipakai adalah rasa kari tapi mungkin buat penduduk Medan yang mayoritas adalah orang Melayu bumbu kari asli pabrikan Indom*e rasanya becanda kali ya (oke, ini analisis saya sendiri). Alhasil Indom*e tersebut diolah kembali dengan tambahan telur, tomat, daun bawang, bubuk cabe, dan entah bumbu-bumbu apa lagi. Rasanya? Kari bangetttt! Ini baru rasa kari gak pake becanda.

Indom*e yang sudah matang akan disajikan bersama piring kecil berisi irisan bawang merah, timun, jeruk nipis, dan kerupuk.

Walaupun saya tetap suka edisi original (maklum saya pecinta Indom*e level posesif), olahan yang satu ini layak banget dapet jempol. Sekedar mie instan tapi diolah dengan serius (walaupun pas tadi saya pesan si abang masaknya sambil nonton siaran sepak bola). Mungkin seharusnya Indom*e kerjasama dengan orang Melayu waktu nyiptain Indom*e kari hahha

Gendut gila

Arghhh sedikit nostalgila melihat foto-foto (agak) lama. Ya gak lama-lama banget sh, cuma sekitar 2-3 tahun lalu. Foto-foto di hari pernikahan salah satu teman baik yang cantik dan baik hati (sekarang udah punya 2 anak), si Shany Bilqis.

Melihat foto itu rasanya pengen tenggelem (di kasur), jedotin pala ke dinding (balon), gigit-gigit (coklat). Kenapakah? Saya amat sangat gendut sekali banget di foto itu. TIDAKKKKKK…!!! Seriusan itu parah banget. Bener bener kayak labu kuning (berhubung lagi dalam masa halloween). Serius itu benar-benar memalukan, kok bisa-bisanya ya saya membiarkan diri saya jadi sebesar itu? Serius ini bukan lebay a la a la cewe ceking yang selalu ngerasa masih gendut aja. Ini sih buletnya gak pake boong. Kalo ada yang bilang gak gendut itu sh namanya sakit mata

Baru sadar nop? Kemana aja?

Terus sekarang jadi kepikiran apakah emang saya segendut itu? Apakah sekarang saya masih segendut itu? Ahhh kl ngaca kok bawaannya seksi-seksi aja ya (narsis tingkat fatal), apa saya ditipu cermin? Ahhhh what was I doing to my body?

Diet? Mau banget tapi permasalahan terbesar saya dari dulu adalah lack of consistency. Sekarang ribut gini dan langsung heboh mau diet. Tapi cuma tahan 1-2 minggu abis itu gak tau diri lagi dh. Kenapa sh makan itu enak? Makan kan gak dosa tapi kenapa bikin gendut sh? *nangis sambil guling-guling nendang-nendang kaki di lantai*